Kamis, 22 Oktober 2020

Teknik Videografi

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH .

Apa kabar teman-teman? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat, Aamiin .

Perkenalkan nama saya Rasmadi  SMKN 36 Jakarta Jurusan Multimedia.

Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan materi Teknik Videografi

Langsung saja simak penjelasan yang ada dibawah ini...



























KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR

MATA PELAJARAN VIDEOGRAFI

 

Pengertian

Mata pelajaran Videografi mempelajari tentang pengetahuan

sejarah, peralatan, keteknikan, konsep, proses, apresiasi, analisis,

realisasi, dan evaluasi Videografi dalam pengembangan karya seni rupa

dan kriya secara konstruktif dan kreatif.

 

 

Rasional

a. Hubungan dengan Pencipta

Menghayati mata pelajaran fotog Videografi sebagai sarana untuk

kesejahteraan dan kelangsungan hidup umat manusia.

b. Hubungan dengan Sesama Manusia

1) Menghayati sikap cermat, teliti dan tanggungjawab dalam

mengindentifikasi kebutuhan, pengembangan alternatif dan

desain dalam pelajaran Videografi

2) Menghayati pentingnya kolaborasi dan jejaring untuk

menemukan solusi dalam pengembangan karya Videografi

3) Menghayati pentingnya bersikap jujur, disiplin serta bertanggung

jawab sebagai hasil dari pembelajaran Videografi

c. Hubungan dengan Lingkungan Alam

Menghayati pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam

pengembangan karya Videografi secara menyeluruh

 

 

UNIT 1

MENGENAL FILM

 

Tujuan Pembelajaran

·         Mendeskripsikan sejarah perkembangan videografi sebagai anugerah Tuhan untuk kemaslahatan umat manusia

·                 ·          Mendeskripsikan film pendek dan iklan

·         Mengidentifikasi insan perfilman

·         Mengidentifikasi fungsi dan peralatan pada studio film

·         Mengidentifikasi tantangan dalam pembuatan film

 

 

Penyajian Materi

 

1. Dari Mana Datangnya Film?

 

Dari mana datangnya film? Ya, tentu saja dari tangan-tangan

kreatif yang bekerja sepenuh hati menghasilkan gabungan gambar

bergerak dengan suara yang kita sebut video atau film. Tuhan telah

memberikan sifat dasar kepada manusia untuk selalu tidak puas

dengan yang sudah dicapai. Pada diri setiap manusia senantiasa

terdapat keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Untuk

mendapatkan hal tersebut, manusia bekerja dan berinovasi.

Kapan film pertama ditemukan? Nah, kalau yang ini, tidak

semua dari kita mengetahuinya. Menurut Vojković (2010), penemuan

film sesungguhnya didahului oleh perkembangan dunia gambar dan

fotografi.

 

Pada suatu kesempatan, dua orang sahabat pecinta pacuan

kuda yang berasal dari Amerika berdebat apakah keempat kaki kuda

yang sedang berlari cepat pernah melayang di udara dalam waktu

bersamaan. Keduanya bertahan dengan pendapat masing-masing.

Oleh karena tidak bisa membuktikan, akhirnya mereka meminta

bantuan pihak ketiga yang dipandang ahli. Mereka akhirnya bersepakat

meminta bantuan seorang fotografer untuk membuktikannya.

Fotografer yang ditunjuk itu pun bekerja secara profesional

sesuai keahliannya. Sebagai profesional, dia harus bekerja teliti dan

semaksimal mungkin agar hasilnya nanti dapat diterima dengan baik.

Sang fotografer kemudian memasang kamera pada tepian lintasan

pacuan kuda. Pemicu kamera-kamera yang dipasang kemudian

diikatkan pada seutas tali halus yang melintang pada lintasan pacuan

kuda. Jika tali tersebut putus oleh karena tersentuh kaki-kaki kuda,

maka pemicu kamera akan bergerak dan kamera pun secara otomatis

mengambil gambar.

 

Proses tersebut menghasilkan sejumlah gambar dengan urutan

tertentu. Gambar-gambar itu kemudian dicetak dan disusun dalam

sebuah buku ilusi optik. Ketika dijentikkan, terciptalah adegan kuda

yang sedang berlari. Dari gambar itulah akhirnya dapat disimpulkan

bahwa pada kesempatan-kesempatan tertentu keempat kaki kuda yang

berlari kencang melayang secara bersamaan.

Karya tersebut sesungguhnya menyerupai karya film yang

kerap kita tonton saat ini. Tentu saja, jika Anda akan membuat film

dengan cara demikian, pembuatannya sangat rumit dan memakan

waktu yang tidak sedikit. Dapat dibayangkan, Anda harus memasang

sederet kamera kemudian memprosesnya selama berjam-jam. Ketika

hasil yang didapatkan tidak memuaskan, proses tersebut harus diulang

dari awal.


2. Kapan Kamera Film Ditemukan dan Kapan Film Pertama Dibuat?

 

Mungkin Anda sudah mengetahui penemu dan waktu

ditemukannya kamera film. Ya, kamera film dan proyektor pertama

dibuat oleh Louis dan Auguste Lumière. Louis dan Auguste Lumière

merupakan dua bersaudara berkebangsaaan Perancis. Hasil

tangkapan kamera yang dibuat keduanya diputar pertama kali pada

1895.

 

Kamera, proyektor, dan film yang dibuat keduanya masih

sangat sederhana. Bahkan, untuk memutar film yang sudah selesai

diproses, Louis dan Auguste Lumière menggunakan engkol yang

digerakkan secara manual.

 

Film pertama yang dibuat oleh Louis dan Auguste Lumière

adalah film tentang kedatangan kereta di stasiun. Vojković (2010)

mengungkapkan bahwa waktu itu penonton sampai berlarian ke pinggir

bioskop karena dikira kereta yang ada di layar akan menabrak mereka.

Masih menurut Vojković (2010), dua bersaudara itu kemudian

memproduksi film kedua. Film kedua yang dibuat adalah tentang

seorang tukang kebun yang menyiram tanaman. Ketika dia asyik

menyiram, seorang tetangga menginjak slangnya sehingga kucuran air

terhenti. Si tukang kebun kebingungan, dia pun memeriksa ujung

slangnya. Ketika itulah si tetangga melepas injakan kakinya sehingga

air meyemprot ke muka si tukang kebun.

 

Cerita si tukang kebun tersebut ketika itu dirasa penonton

sangat lucu. Mereka pun terpingkal-pingkal menyaksikan kesialan yang

dialami oleh si tukang kebun. Itulah gambaran kesederhanaan film

pertama dan kedua yang dibuat oleh dua bersaudara bernama Louis

dan Auguste Lumière. Dari kesederhanaan itulah kemudian manusia

belajar untuk mendapatkan yang lebih baik.

 

Selain Louis dan Auguste Lumière, pada tahun yang sama

Thomas Edison ternyata juga mengembangkan gambar hidup (film).

Hanya saja, penemuan Thomas Edison ini tidak bisa dinikmati seperti

karya Louis dan Auguste Lumière. Jika karya Louis dan Auguste

Lumière dapat dinikmati bersama-sama melalui proyektor, karya

Thomas Edison hanya menggunakan kotak besar sehingga hanya

 

3. Film Panjang atau Film Pendek?

 

Perangkat yang ditemukan oleh Louis dan Auguste Lumière

masih sangat sederhana, hampir sama sederhananya dengan yang

ditemukan oleh Thomas Edison. Oleh karena itu, film yang dibuat

waktu itu juga film-film pendek.

Saat ini, film-film yang diputar di bioskop rata-rata 1,5 sampai 2

jam. Bahkan, ada film yang durasinya hampir 3 jam. Untuk

membuatnya pastilah membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit,

mulai biaya untuk peralatan, karyawan, para pemain, dan banyak lagi

yang lain. Belum lagi jika pembuatan film dilakukan di tempat yang jauh

dan berakses sulit, tentu sumber daya yang dibutuhkan lebih banyak

lagi. Lebih dari itu semua, keterampilan para pembuat film haruslah

benar-benar mumpuni.

Walaupun begitu, Anda tidak perlu khawatir. Saat ini ada

 

kecenderungan masyarakat dunia untuk membuat dan menyukai film-

film pendek seperti yang telah diungkapkan pada bagian pengantar.

 

Menurut Vojković (2010), bahwa festival film paling terkenal di dunia

justru festival yang menghadirkan film-film berdurasi sangat pendek.

Sebuah festival film pendek rutin dilaksanakan di Berlin dan

ditonton sampai 20 juta orang. Bagaimana bisa? Festival dilakukan

tidak di dalam bioskop atau di dalam ruang pertemuan. Film-film

berdurasi 90 detik diputar pada monitor-monitor yang dipasang dalam

kereta api, bus, dan kereta listrik. Waktu tempuh antara perhentian

yang satu ke perhentian lain pada transportasi umum di Berlin lebih

kurang 90 detik. Itulah alasan durasi film-film yang dibuat selama 90

detik.

 

Lebih lanjut, Vojković (2010) mengemukakan bahwa festival film pendek juga dilakukan di Serbia dengan nama “Festival Maret Film Pendek”. Walaupun bernama “Maret”, pelaksanaan sesungguhnya dilakukan pada bulan April. Tidak hanya film pendek yang menggunakan kamera profesional, ada juga festival sedunia untuk film pendek yang diambil menggunakan kamera telepon seluler. Pada layar televisi, film-film pendek yang ditayangkan didominasi film-film pendek bergenre komedi. Dalam cerita komedi, fokusnya adalah membuat penonton tertawa sehingga para pembuat tidak dibebani oleh alur cerita yang berbelit dengan akhir tertentu yang mengesankan. Ketika telah berhasil membuat penonton tertawa, biasanya film-film komedi berakhir. Oleh karena itu, durasinya bisa jadi sangat pendek seperti yang terjadi pada festival film pendek di Berlin.

 

Selain komedi, film pendek juga terlihat pada iklan-iklan televisi.

Biasanya, iklan tidak sekadar menawarkan produk, akan tetapi memiliki

cerita tertentu yang menarik perhatian masyarakat. Produk ditampilkan

dengan cara disematkan pada cerita yang dibuat. Tidak hanya untuk

komedi dan iklan, film pendek juga dapat berisi materi-materi

pembelajaran dan/atau materi inspiratif.

Pernah membayangkan mengadakan festival film pendek di

sekolah atau daerah anda? Jika belum, cobalah untuk memikirkannya.

 

4. Siapa Sajakah yang Dapat Membuat Film?

 

Cerita tentang festival film pendek tersebut setidaknya telah

memberikan sedikit gambaran bahwa film pendek sesungguhnya

sudah memiliki tempat tersendiri di masyarakat dunia. Dengan durasi

yang pendek tersebut, logikanya, film ini dapat dibuat oleh semua

orang karena tidak memerlukan sumber daya yang terlalu besar

layaknya film-film bioskop.

Oleh karena tidak memerlukan sumber daya yang terlalu besar

dan dapat dibuat oleh semua orang, film pendek tentu saja dapat

 

dibuat oleh berbagai pihak dan untuk berbagai kepentingan. Jika film-

film bioskop berorientasi profit oleh karena harus mengembalikan biaya

 

pembuatan yang sangat mahal dan menargetkan keuntungan sebesar

mungkin, film pendek tidak senantiasa demikian.

Sebagai pelajar, Anda pun dapat membuat film pendek dengan

memanfaatkan sumber daya yang ada. Anda dapat menggunakan

telepon seluler, handycam, bahkan kamera pocket. Akan lebih baik lagi

jika di sekolah Anda telah tersedia kamera profesional. Untuk editing,

Anda bisa menggunakan laptop, komputer di rumah, atau fasilitas yang

ada di sekolah. Jika tidak dapat dilakukan sekali waktu, lakukan secara

maraton. Jika tidak dapat dilakukan sendiri, lakukan secara

berkelompok. Jadi, tunggu apalagi? Tidak perlu memusingkan biaya

lagi, bukan?

 

5. Siapa Sajakah yang Terlibat dalam Pembuatan Film?

 

Membuat film profesional bukanlah pekerjaan yang sederhana.

Membuat film profesional melibatkan banyak pihak dengan

spesifikasinya sendiri-sendiri. Orang-orang yang terlibat dalam

pembuatan film pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 Pasal 20

Ayat 2 disebut sebagai insan perfilman. Insan perfilman tersebut adalah

sebagai berikut.

a. Penulis Skenario

Penulis skenario adalah seseorang yang menerjemahkan ide cerita

ke dalam bahasa tulis yang akan digunakan sebagai pedeoman

tertulis bagi semua pihak yang terlibat.

b. Sutradara

Sutradara adalah seseorang yang memimpin proses pembuatan

video/film/iklan. Sutradara bekerja mengatur laku di depan kamera,

mengarahkan acting dan dialog, mengontrol posisi dan

gerak kamera, suara, pencahayaan, dan hal lain yang berhubungan

dengan hasil akhir yang maksimal sebuah film. Sutradara

menduduki posisi tertinggi dari sisi artistik.

c. Artis (Pemeran)

Artis adalah orang-orang yang menjadi pemeran dalam sebuah film.

Artis laki-laki dikenal dengan istilah aktor sementara artis

perempuan dikenal dengan sebutan aktris.

d. Juru Kamera

Juru kamera adalah orang yang bertugas mengambil gambar atau

mengoperasikan kamera saat diadakan pengambilan

gambar/shooting.

e. Penata Cahaya (Lighting)

Penata cahaya bertugas mengatur pencahayan dalam pembuatan

video/film/iklan.

f. Penata Suara

Bagian tata suara bertugas membuat/memilih/merekam suara dan

efek-efek suara yang sesuai dengan suasana cerita dalam proses

produksi.

g. Penyunting Suara (Editing Audio)

Penyunting suara dan penyunting gambar bekerja secara

bersamaan dalam proses penyuntingan atau editing.

h. Penata Laku

Penata laku bertugas membantu sutradara dalam mengatur

pergerakan/laku pemain.

i. Penata Musik

Bagian tata musik bertugas membuat/memilih musik yang sesuai

dengan suasana cerita dalam pembuatan video/film/iklan.

j. Penata Artistik

Bagian ini bertugas membuat atau mengatur latar dan setting yang

sesuai dengan suasana cerita dalam proses produksi.

k. Penyunting Gambar (Editing Video)

Penyunting gambar dalam pembuatan film bertugas melakukan

editing atas hasil pengambilan gambar dalam proses produksi.

l. Perancang Animasi

Bagian ini bertugas memberikan tambahan efek-efek animasi pada

gambar sehingga gambar lebih hidup.

m. Produser

Produser merupakan seseorang yang mempunyai tugas untuk

memimpin dan mengarahkan secara keseluruhan.

Pada pembuatan film pendek, tidak semua bidang tersebut

diperankan oleh orang yang berbeda. Satu orang dapat saja

merangkap beberapa pekerjaan. Bahkan, pada beberapa kasus,

banyak film pendek yang hanya dikerjakan oleh satu orang.

Bidang-bidang tersebut adalah wilayah pekerjaan yang perlu

ditangani dalam pembuatan film. Kebutuhan penanggung jawab atas

bidang-bidang pekerjaan tersebut disesuaikan dengan kemampuan

orang-orang yang terlibat dan tingkat kesulitan produksi sebuah film.

 

6. Apa Sajakah Tantangan Pembuat Film Pendek?

 

Sepanjang perjalanan hidup, manusia tidak pernah terlepas dari

tantangan. Sama halnya saat membuat film pendek, tantangan-

tantangan pun akan menyertai para pembuat film pendek. Apa sajakah

tantangan-tantangan tersebut?

a. Cerita

Tantangan pertama dalam pembuatan film pendek adalah cerita.

Membuat cerita yang bermanfaat dan/atau efektif untuk film pendek

bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, penulis cerita harus

benar-benar banyak belajar dan bekerja keras untuk menghasilkan

cerita yang sesuai harapan. Dalam mendapatkan cerita ini, Anda

tidak harus selamanya membuat sendiri. Anda dapat menggunakan

cerita milik orang lain dengan seizin pengarangnya.

b. Keterbatasan Peralatan

Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan peralatan. Tiap-tiap

orang memiliki permasalahan sendiri-sendiri. Ada kalanya ketika

memiliki keinginan yang kuat untuk membuat film, seseorang tidak

memiliki peralatan memadai sehingga pembuatan film dapat

terganggu. Menghadapi masalah ini, Anda hendaknya tidak

berputus asa, yakinlah bahwa Tuhan telah menyiapkan berbagai

solusi untuk setiap permasalahan yang kita hadapi. Ada kalanya

kita membayangkan peralatan terlalu muluk, padahal,

sesungguhnya dengan peralatan yang ada kita sudah dapat

membuat sebuah film. Bahkan, untuk membuat film kita tidak harus

menggunakan peralatan pribadi. Kita pun dapat menggunakan

peralatan yang ada di sekolah atau bekerja sama dengan teman-

teman yang memiliki peralatan yang dibutuhkan.

 

c. Keterbatasan Waktu

Tantangan lain, yaitu keterbatasan waktu. Bagi seorang pelajar,

waktu pastilah sangat berharga. Seorang pelajar harus mengikuti

berbagai kegiatan yang menjadi kewajibannya, mulai dari kegiatan

kurikuler, ekstrakurikuler, kegiatan di rumah, kegiatan di lingkungan,

dan lain-lain. Menunggu waktu luang bukanlah solusi terbaik karena

bisa jadi waktu luang itu tidak akan datang. Seorang pelajar harus

bisa mengatur waktu dan jeli memanfaatkan tiap-tiap kesempatan

yang ada.

d. Keterbatasan Pengetahuan dan Keterampilan

Seorang pembuat film pastilah harus memiliki pengetahuan dan

katerampilan yang cukup karena kegiatan yang dilakukan

merupakan kegiatan produktif. Namun, jangan khawatir, Anda

dapat bekerja sama dengan teman-teman jika belum mahir

membuat film. Anda tentu juga memiliki hak untuk mendapat

pendampingan dari guru-guru atau dari kakak-kakak kelas yang

telah lebih dahulu belajar atau mendapatkan pengetahuan tersebut.

e. Keterbatasan Kesempatan

Puncak dari semua permasalahan itu adalah kesempatan yang

terbatas. Sebagai seorang pelajar, Anda harus pandai

memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Untuk membuka

kesempatan, mungkin Anda harus mengikuti bahkan mengusulkan

pembukaan (jika belum ada) ekstrakurikuler film. Dengan adanya

ekstrakurikuler ini, secara otomatis kesempatan menjadi ada,

sekolah pun secara otomatis akan ikut menyediakan berbagai

kebutuhan yang diperlukan.

 

7. Mengenal Studio Film

 

Studio film memiliki pengertian umum sebagai perusahaan yang

mendistribusikan film. Namun, secara harfiah, istilah studio film

mengacu pada sebuah tempat untuk pembuatan gambar bergerak.

Tempat produksi ini bisa di dalam ruangan, luar ruangan, dan

gabungan keduanya.

Pada sebuah studio film terdapat berbagai peralatan yang

dibutuhkan untuk produksi video. Peralatan-peralatan tersebut terbagi

menjadi peralatan produksi, peralatan penyiaran, dan peralatan

pendukung.

a. Peralatan Produksi

 Camera system (studio camera dan eng/efp camera)

 Video system

 Audio system

 Editing (and dubbing) system

 VCR system

 Lighting system

 Master control

 Production control

 Commucation system

 Mobile production unit

 Maintenance equipment

 dan lain-lain

b. Peralatan Penyiaran

 Sending VCR system

 Continuity studio equipment

 Camera system

 Audio system

 Video system

 Lighting system

 Master control (sharing dengan produksi)

 Peralatan transmisi (pemancar, microwave link, dan up & down

link)

c. Peralatan Pendukung (Teknik Umum)

 Pembangkit daya listrik:

- Stationary (PLN, generator sets)

- Mobile/protable:

 Mobile generator sets sebagai kelengkapan mobile

production unit.

 Small silent generator set.

 Alat pendingin (AC) untuk studio dan ruang peralatan

 Alat komunikasi

- Stationary

- Protable: handy talky, mobile phone.

 Komputer (IT) untuk komputer grafis.

 Mobil untuk transportasi tim produksi.

 Mobil untuk transportasi peralatan pendukung siaran luar.

 


 

UNIT 2

VIDEOGRAFI DALAM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

 

Tujuan Pembelajaran

·         Memahami kegunaan videografi dalam desain komunikasi visual

·         Mendeskripsikan kegunaan videografi dalam desain komunikasi visual

·         Memahami bahan dan alat yang digunakan untuk videografi

·         Mengidentifikasi bahan dan alat videografi

 

Penyajian Materi

1. Lebih Dekat dengan Desain Komunikasi Visual

 

Desain komunikasi visual mulai dikenal di Belanda pada tahun 1977. Waktu itu, Gert Dumbar mengungkapkan bahwa seorang desainer grafis tidak sekadar menangani urusan cetak-mencetak, tetapi juga mengurusi moving image, audio-visual, display, hingga pameran.

 

Oleh karena wilayah kerjanya lebih luas, konsep Gert Dumbar ini tidak lagi dapat dinamakan desain grafis. Dia pun menggagas istilah desain komunikasi visual. Istilah ini tidak langsung dikenal di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 1980-an, istilah desain komunikasi visual baru sampai ke Indonesia.

 

Saat ini, secara umum spesifikasi desain komunikasi visual dikelompokkan menjadi tiga, yaitu grafis, multimedia, dan periklanan. Sesuai karakteristik ilmu pengetahuan, mungkin saja di kemudian hari pengelompokkan ini dapat berubah atau berkembang mengikuti berbagai pengembangan dan penemuan yang dilakukan umat manusia.

 

Pada desain grafis, seorang desainer harus memiliki kompetensi dalam bidang teknik perencanaan gambar, bentuk, simbol, huruf, fotografi, cetak-mencetak, dan pengetahuan atas bahan dan biaya. Sementara itu,multimedia difokuskan oleh berbagai media yang dimanfaatkan dalam penyampaian pesan, yaitu audio-visual, animasi, dan antarmuka. Lebih detail lagi, elemen-elemen utama multimedia terdiri atas teks, image, movie, sound, dan user control. Berbeda dengan kedua jenis tersebut, periklanan memanfaatkan desain grafis dan multimedia dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan tertentu, baik pesan sosial maupun pesan komersial.

 

Sesungguhnya, peran desain komunikasi visual ini tidak berhenti pada penyampaian pesan atau informasi. Dewasa ini, desain komunikasi visual juga berperan sebagai pemberi citra (image) terhadap sesuatu yang dikomunikasikan. Penerima informasi tidak sekadar tahu melainkan terpengaruh dan tersugesti. Dengan kata lain, citra tidak sekadar membuat penerima tahu, tetapi juga menjadikannya berubah pandangan¸ berubah sikap, dari tidak suka menjadi suka, dari menolak menjadi menerima.

 

2. Videografi dalam Desain Komunikasi Visual

 

Pada saat akan terjadi suatu peristiwa besar, misalnya konser, ulang tahun daerah, dan lain-lain, Anda pasti melihat begitu banyak poster, baliho, dan spanduk yang dipasang di tempat-tempat umum. Bisa pula Anda pernah membuat media promosi untuk pemilihan ketua OSIS atau kepentingan lain di sekolah. Selain menggunakan media visual tersebut, ada pula informasi yang disampaikan melalui radio. Selain untuk menyosialisasikan kegiatan yang akan diselenggarakan, media audio visual juga digunakan dalam promosi produk.

 

Poster, baliho, dan spanduk adalah media yang murni menyajikan informasi secara visual. Berbagai informasi disajikan secara visual dengan semenarik mungkin sehingga menjadi persuasif. Sementara itu, radio memberikan informasi melalui pendengaran manusia. Berdasarkan penelitian, tiap-tiap media tersebut memiliki tingkat keefektifan sendiri-sendiri dalam menyampaikan pesan, sesuai dengan karakteristik sasarannya.Media yang merangsang lebih banyak indra (multiindra) dipandang akan mampu menyajikan informasi dan pengaruh lebih banyak dibandingkan yang hanya menggunakan atau memanfaatkan satu indra, misalnya penglihatan saja atau pendengaran saja. Selain itu, media ini akan menimbulkan kesan dan pemahaman yang lebih besar dibandingkan media yang hanya merangsang satu indra manusia.

 

Media yang menyasar lebih dari satu indra yang dimiliki manusia tersebut dikenal dengan istilah multimedia. Video menyampaikan pesan melalui media audio dan visual sekaligus. Dengan begitu, secara otomatis video akan menyasar indra penglihatan dan pendengaran pemirsanya secara bersamaan.

 

Untuk kepentingan periklanan, seorang pembuat iklan haruslah memahami dengan baik media-media yang paling efektif dalam penyampaian pesan-pesan. Pada praktiknya, hal ini  banyak bergantung kepada konsumen. Konsumenlah yang menentukan apakah dia akan memanfaatkan media visual, audio, audio-visual, atau multimedia.

3. Berbagai Peralatan dalam Pembuatan Video

 

Pada unit pertama sudah dibahas tentang berbagai kelengkapan dalam sebuah studio film. Selain peralatan yang bersifat fisik tersebut, juga dibutuhkan peralatan jenis lain, yang sifatnya nonfisik, yaitu cerita, naskah, dan storyboard. Jadi, secara lengkap, kebutuhan dalam pembuatan film adalah sebagai berikut.

a)      cerita

b)      naskah

c)      storyboard

d)      kamera

e)      komputer

f)       software editing video-audio

g)      kepingan VCD/DVD

 

Langkah-langkah dalam Pembuatan Video :

a. Menulis Cerita

Untuk membuat film, Anda harus memiliki cerita. Tanpa sebuah cerita, tentulah tidak akan ada yang dapat dilakukan. Pun begitupun dalam pembuatan iklan. Saat ini, iklan-iklan biasanya disampaikan dalam sebuah cerita, baik cerita tentang keingintahuan seseorang atas sebuah produk, cerita tentang pengalaman pemakainya, maupun cerita lain yang bersinggungan dengan produk ciri, fungsi, atau manfaat produk.

b. Menulis Naskah

Cerita yang telah ditulis kemudian diterjemahkan menjadi naskah film atau naskah iklan. Naskah iklan ini dijadikan dasar pembuatan storyboard.

C. Membuat Storyboard

Pada proses pengambilan suara dan gambar, tim harus memiliki panduan yang lebih jelas agar hasil yang didapat benar-benar sesuai rencana. Untuk itu, dibuatlah d.storyboard.

Mengambil Gambar

Setelah naskah dan storyboard selesai dibuat, tim pun mengambil gambar berdasarkan naskah dan storyboard tersebut. Pada proses ini, tentu saja dialog juga langsung diambil.

e. Transfer File

Gambar dan suara yang tersimpan di kamera kemudian dimasukkan ke dalam komputer. Untuk itu, dilakukan proses transfer file. File harus disesuaikan dengan kebutuhan software yang akan digunakan. Jika tidak sesuai, file tidak dapat dibaca.

f. Editing

Setelah file ditransfer ke komputer, dilakukanlah proses editing atau penyuntingan. Pada tahap ini, bagian-bagian yang dianggap tidak perlu dapat dibuang. Pada tahap ini dapat pula dilakukan penambahan animasi, efek suara, atau unsur lain.

g. Rendering

Rendering adalah proses yang dilakukan jika proses editing sudah selesai dan produk siap dipublikasikan. Pada proses ini file ditransfer menjadi format tertentu sesuai kebutuhan.

h. Burn to Disc/Tape

Setelah rendering selesai, file sudah siap disimpan ke media penyimpanan akhir, misalnya VCD, DVD, atau bentuk lain.

 

sekian dan terima kasih,Wabillahi taufiq wal hidayah,
WASSALAMUA'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

Video Dan Media Pembuat Video KD 3.16 & 4.16

  ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH . Apa kabar teman-teman? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat, Aamiin . Per...