ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH .
Apa kabar teman-teman? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat, Aamiin .
Perkenalkan nama saya Rasmadi SMKN 36 Jakarta Jurusan Multimedia.
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan materi Teknik Videografi.
Langsung saja simak penjelasan yang ada dibawah ini...
KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
MATA PELAJARAN VIDEOGRAFI
Pengertian
Mata pelajaran Videografi
mempelajari tentang pengetahuan
sejarah, peralatan,
keteknikan, konsep, proses, apresiasi, analisis,
realisasi, dan evaluasi
Videografi dalam pengembangan karya seni rupa
dan kriya secara konstruktif
dan kreatif.
Rasional
a. Hubungan dengan Pencipta
Menghayati mata pelajaran
fotog Videografi sebagai sarana untuk
kesejahteraan dan kelangsungan
hidup umat manusia.
b. Hubungan dengan Sesama Manusia
1) Menghayati sikap cermat,
teliti dan tanggungjawab dalam
mengindentifikasi kebutuhan,
pengembangan alternatif dan
desain dalam pelajaran
Videografi
2) Menghayati pentingnya
kolaborasi dan jejaring untuk
menemukan solusi dalam
pengembangan karya Videografi
3) Menghayati pentingnya
bersikap jujur, disiplin serta bertanggung
jawab sebagai hasil dari
pembelajaran Videografi
c. Hubungan dengan Lingkungan Alam
Menghayati pentingnya
menjaga kelestarian lingkungan dalam
pengembangan karya
Videografi secara menyeluruh
UNIT 1
MENGENAL FILM
Tujuan Pembelajaran
·
Mendeskripsikan sejarah perkembangan videografi
sebagai anugerah Tuhan untuk kemaslahatan umat
manusia
· · Mendeskripsikan film pendek dan iklan
·
Mengidentifikasi insan perfilman
·
Mengidentifikasi fungsi dan peralatan pada studio film
·
Mengidentifikasi tantangan dalam pembuatan film
Penyajian Materi
1. Dari Mana Datangnya Film?
Dari mana datangnya film?
Ya, tentu saja dari tangan-tangan
kreatif yang bekerja sepenuh
hati menghasilkan gabungan gambar
bergerak dengan suara yang
kita sebut video atau film. Tuhan telah
memberikan sifat dasar
kepada manusia untuk selalu tidak puas
dengan yang sudah dicapai.
Pada diri setiap manusia senantiasa
terdapat keinginan untuk
mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Untuk
mendapatkan hal tersebut, manusia
bekerja dan berinovasi.
Kapan film pertama
ditemukan? Nah, kalau yang ini, tidak
semua dari kita
mengetahuinya. Menurut Vojković (2010), penemuan
film sesungguhnya didahului
oleh perkembangan dunia gambar dan
fotografi.
Pada suatu kesempatan, dua
orang sahabat pecinta pacuan
kuda yang berasal dari
Amerika berdebat apakah keempat kaki kuda
yang sedang berlari cepat
pernah melayang di udara dalam waktu
bersamaan. Keduanya bertahan
dengan pendapat masing-masing.
Oleh karena tidak bisa
membuktikan, akhirnya mereka meminta
bantuan pihak ketiga yang
dipandang ahli. Mereka akhirnya bersepakat
meminta bantuan seorang
fotografer untuk membuktikannya.
Fotografer yang ditunjuk itu
pun bekerja secara profesional
sesuai keahliannya. Sebagai
profesional, dia harus bekerja teliti dan
semaksimal mungkin agar
hasilnya nanti dapat diterima dengan baik.
Sang fotografer kemudian
memasang kamera pada tepian lintasan
pacuan kuda. Pemicu
kamera-kamera yang dipasang kemudian
diikatkan pada seutas tali
halus yang melintang pada lintasan pacuan
kuda. Jika tali tersebut
putus oleh karena tersentuh kaki-kaki kuda,
maka pemicu kamera akan
bergerak dan kamera pun secara otomatis
mengambil gambar.
Proses tersebut menghasilkan
sejumlah gambar dengan urutan
tertentu. Gambar-gambar itu
kemudian dicetak dan disusun dalam
sebuah buku ilusi optik.
Ketika dijentikkan, terciptalah adegan kuda
yang sedang berlari. Dari
gambar itulah akhirnya dapat disimpulkan
bahwa pada
kesempatan-kesempatan tertentu keempat kaki kuda yang
berlari kencang melayang
secara bersamaan.
Karya tersebut sesungguhnya
menyerupai karya film yang
kerap kita tonton saat ini.
Tentu saja, jika Anda akan membuat film
dengan cara demikian, pembuatannya
sangat rumit dan memakan
waktu yang tidak sedikit.
Dapat dibayangkan, Anda harus memasang
sederet kamera kemudian
memprosesnya selama berjam-jam. Ketika
hasil yang didapatkan tidak
memuaskan, proses tersebut harus diulang
dari awal.
2. Kapan Kamera Film Ditemukan dan Kapan Film Pertama
Dibuat?
Mungkin Anda sudah
mengetahui penemu dan waktu
ditemukannya kamera film.
Ya, kamera film dan proyektor pertama
dibuat oleh Louis dan
Auguste Lumière. Louis dan Auguste Lumière
merupakan dua bersaudara
berkebangsaaan Perancis. Hasil
tangkapan kamera yang dibuat
keduanya diputar pertama kali pada
1895.
Kamera, proyektor, dan film
yang dibuat keduanya masih
sangat sederhana. Bahkan,
untuk memutar film yang sudah selesai
diproses, Louis dan Auguste
Lumière menggunakan engkol yang
digerakkan secara manual.
Film pertama yang dibuat
oleh Louis dan Auguste Lumière
adalah film tentang
kedatangan kereta di stasiun. Vojković (2010)
mengungkapkan bahwa waktu
itu penonton sampai berlarian ke pinggir
bioskop karena dikira kereta
yang ada di layar akan menabrak mereka.
Masih menurut Vojković
(2010), dua bersaudara itu kemudian
memproduksi film kedua. Film
kedua yang dibuat adalah tentang
seorang tukang kebun yang
menyiram tanaman. Ketika dia asyik
menyiram, seorang tetangga
menginjak slangnya sehingga kucuran air
terhenti. Si tukang kebun
kebingungan, dia pun memeriksa ujung
slangnya. Ketika itulah si
tetangga melepas injakan kakinya sehingga
air meyemprot ke muka si
tukang kebun.
Cerita si tukang kebun
tersebut ketika itu dirasa penonton
sangat lucu. Mereka pun
terpingkal-pingkal menyaksikan kesialan yang
dialami oleh si tukang
kebun. Itulah gambaran kesederhanaan film
pertama dan kedua yang
dibuat oleh dua bersaudara bernama Louis
dan Auguste Lumière. Dari
kesederhanaan itulah kemudian manusia
belajar untuk mendapatkan
yang lebih baik.
Selain Louis dan Auguste
Lumière, pada tahun yang sama
Thomas Edison ternyata juga
mengembangkan gambar hidup (film).
Hanya saja, penemuan Thomas
Edison ini tidak bisa dinikmati seperti
karya Louis dan Auguste
Lumière. Jika karya Louis dan Auguste
Lumière dapat dinikmati
bersama-sama melalui proyektor, karya
Thomas Edison hanya
menggunakan kotak besar sehingga hanya
3. Film Panjang atau Film Pendek?
Perangkat yang ditemukan oleh Louis dan Auguste Lumière
masih sangat sederhana, hampir sama sederhananya dengan yang
ditemukan oleh Thomas Edison. Oleh karena itu, film yang
dibuat
waktu itu juga film-film pendek.
Saat ini, film-film yang diputar di bioskop rata-rata 1,5
sampai 2
jam. Bahkan, ada film yang durasinya hampir 3 jam. Untuk
membuatnya pastilah membutuhkan sumber daya yang tidak
sedikit,
mulai biaya untuk peralatan, karyawan, para pemain, dan
banyak lagi
yang lain. Belum lagi jika pembuatan film dilakukan di tempat
yang jauh
dan berakses sulit, tentu sumber daya yang dibutuhkan lebih
banyak
lagi. Lebih dari itu semua, keterampilan para pembuat film
haruslah
benar-benar mumpuni.
Walaupun begitu, Anda tidak perlu khawatir. Saat ini ada
kecenderungan masyarakat dunia untuk membuat dan menyukai
film-
film pendek seperti yang telah diungkapkan pada bagian
pengantar.
Menurut Vojković (2010), bahwa festival film paling terkenal
di dunia
justru festival yang menghadirkan film-film berdurasi sangat
pendek.
Sebuah festival film pendek rutin dilaksanakan di Berlin dan
ditonton sampai 20 juta orang. Bagaimana bisa? Festival
dilakukan
tidak di dalam bioskop atau di dalam ruang pertemuan.
Film-film
berdurasi 90 detik diputar pada monitor-monitor yang dipasang
dalam
kereta api, bus, dan kereta listrik. Waktu tempuh antara
perhentian
yang satu ke perhentian lain pada transportasi umum di Berlin
lebih
kurang 90 detik. Itulah alasan durasi film-film yang dibuat
selama 90
detik.
Lebih lanjut, Vojković (2010) mengemukakan bahwa festival
film pendek juga dilakukan di Serbia dengan nama “Festival Maret Film Pendek”.
Walaupun bernama “Maret”, pelaksanaan sesungguhnya dilakukan pada bulan April.
Tidak hanya film pendek yang menggunakan kamera profesional, ada juga festival
sedunia untuk film pendek yang diambil menggunakan kamera telepon seluler. Pada
layar televisi, film-film pendek yang ditayangkan didominasi film-film pendek
bergenre komedi. Dalam cerita komedi, fokusnya adalah membuat penonton tertawa
sehingga para pembuat tidak dibebani oleh alur cerita yang berbelit dengan
akhir tertentu yang mengesankan. Ketika telah berhasil membuat penonton
tertawa, biasanya film-film komedi berakhir. Oleh karena itu, durasinya bisa
jadi sangat pendek seperti yang terjadi pada festival film pendek di Berlin.
Selain komedi, film pendek juga terlihat pada iklan-iklan
televisi.
Biasanya, iklan tidak sekadar menawarkan produk, akan tetapi
memiliki
cerita tertentu yang menarik perhatian masyarakat. Produk
ditampilkan
dengan cara disematkan pada cerita yang dibuat. Tidak hanya
untuk
komedi dan iklan, film pendek juga dapat berisi materi-materi
pembelajaran dan/atau materi inspiratif.
Pernah membayangkan mengadakan festival film pendek di
sekolah atau daerah anda? Jika belum, cobalah untuk
memikirkannya.
4. Siapa Sajakah yang Dapat Membuat Film?
Cerita tentang festival film
pendek tersebut setidaknya telah
memberikan sedikit gambaran
bahwa film pendek sesungguhnya
sudah memiliki tempat
tersendiri di masyarakat dunia. Dengan durasi
yang pendek tersebut,
logikanya, film ini dapat dibuat oleh semua
orang karena tidak
memerlukan sumber daya yang terlalu besar
layaknya film-film bioskop.
Oleh karena tidak memerlukan
sumber daya yang terlalu besar
dan dapat dibuat oleh semua
orang, film pendek tentu saja dapat
dibuat oleh berbagai pihak
dan untuk berbagai kepentingan. Jika film-
film bioskop berorientasi
profit oleh karena harus mengembalikan biaya
pembuatan yang sangat mahal
dan menargetkan keuntungan sebesar
mungkin, film pendek tidak
senantiasa demikian.
Sebagai pelajar, Anda pun
dapat membuat film pendek dengan
memanfaatkan sumber daya
yang ada. Anda dapat menggunakan
telepon seluler, handycam,
bahkan kamera pocket. Akan lebih baik lagi
jika di sekolah Anda telah
tersedia kamera profesional. Untuk editing,
Anda bisa menggunakan
laptop, komputer di rumah, atau fasilitas yang
ada di sekolah. Jika tidak
dapat dilakukan sekali waktu, lakukan secara
maraton. Jika tidak dapat
dilakukan sendiri, lakukan secara
berkelompok. Jadi, tunggu
apalagi? Tidak perlu memusingkan biaya
lagi, bukan?
5. Siapa Sajakah yang Terlibat dalam Pembuatan Film?
Membuat film profesional bukanlah pekerjaan yang
sederhana.
Membuat film profesional melibatkan banyak pihak dengan
spesifikasinya sendiri-sendiri. Orang-orang yang terlibat
dalam
pembuatan film pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009
Pasal 20
Ayat 2 disebut sebagai insan perfilman. Insan perfilman
tersebut adalah
sebagai berikut.
a.
Penulis Skenario
Penulis skenario adalah seseorang yang menerjemahkan ide
cerita
ke dalam bahasa tulis yang akan digunakan sebagai
pedeoman
tertulis bagi semua pihak yang terlibat.
b.
Sutradara
Sutradara adalah seseorang yang memimpin proses pembuatan
video/film/iklan. Sutradara bekerja mengatur laku di
depan kamera,
mengarahkan acting dan dialog, mengontrol posisi dan
gerak kamera, suara, pencahayaan, dan hal lain yang
berhubungan
dengan hasil akhir yang maksimal sebuah film. Sutradara
menduduki posisi tertinggi dari sisi artistik.
c.
Artis (Pemeran)
Artis adalah orang-orang yang menjadi pemeran dalam
sebuah film.
Artis laki-laki dikenal dengan istilah aktor sementara
artis
perempuan dikenal dengan sebutan aktris.
d.
Juru Kamera
Juru kamera adalah orang yang bertugas mengambil gambar
atau
mengoperasikan kamera saat diadakan pengambilan
gambar/shooting.
e.
Penata Cahaya (Lighting)
Penata cahaya bertugas mengatur pencahayan dalam
pembuatan
video/film/iklan.
f.
Penata Suara
Bagian tata suara bertugas membuat/memilih/merekam suara
dan
efek-efek suara yang sesuai dengan suasana cerita dalam
proses
produksi.
g.
Penyunting Suara (Editing Audio)
Penyunting suara dan penyunting gambar bekerja secara
bersamaan dalam proses penyuntingan atau editing.
h.
Penata Laku
Penata laku bertugas membantu sutradara dalam mengatur
pergerakan/laku pemain.
i.
Penata Musik
Bagian tata musik bertugas membuat/memilih musik yang
sesuai
dengan suasana cerita dalam pembuatan video/film/iklan.
j.
Penata Artistik
Bagian ini bertugas membuat atau mengatur latar dan setting
yang
sesuai dengan suasana cerita dalam proses produksi.
k.
Penyunting Gambar (Editing Video)
Penyunting gambar dalam pembuatan film bertugas melakukan
editing atas hasil pengambilan gambar dalam proses
produksi.
l.
Perancang Animasi
Bagian ini bertugas memberikan tambahan efek-efek animasi
pada
gambar sehingga gambar lebih hidup.
m.
Produser
Produser merupakan seseorang yang mempunyai tugas untuk
memimpin dan mengarahkan secara keseluruhan.
Pada pembuatan film pendek, tidak semua bidang tersebut
diperankan oleh orang yang berbeda. Satu orang dapat saja
merangkap beberapa pekerjaan. Bahkan, pada beberapa
kasus,
banyak film pendek yang hanya dikerjakan oleh satu orang.
Bidang-bidang tersebut adalah wilayah pekerjaan yang
perlu
ditangani dalam pembuatan film. Kebutuhan penanggung
jawab atas
bidang-bidang pekerjaan tersebut disesuaikan dengan
kemampuan
orang-orang yang terlibat dan tingkat kesulitan produksi
sebuah film.
6. Apa Sajakah Tantangan Pembuat Film Pendek?
Sepanjang perjalanan hidup, manusia tidak pernah terlepas
dari
tantangan. Sama halnya saat membuat film pendek,
tantangan-
tantangan pun akan menyertai para pembuat film pendek.
Apa sajakah
tantangan-tantangan tersebut?
a.
Cerita
Tantangan pertama dalam pembuatan film pendek adalah
cerita.
Membuat cerita yang bermanfaat dan/atau efektif untuk
film pendek
bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, penulis cerita
harus
benar-benar banyak belajar dan bekerja keras untuk
menghasilkan
cerita yang sesuai harapan. Dalam mendapatkan cerita ini,
Anda
tidak harus selamanya membuat sendiri. Anda dapat
menggunakan
cerita milik orang lain dengan seizin pengarangnya.
b.
Keterbatasan Peralatan
Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan peralatan.
Tiap-tiap
orang memiliki permasalahan sendiri-sendiri. Ada kalanya
ketika
memiliki keinginan yang kuat untuk membuat film,
seseorang tidak
memiliki peralatan memadai sehingga pembuatan film dapat
terganggu. Menghadapi masalah ini, Anda hendaknya tidak
berputus asa, yakinlah bahwa Tuhan telah menyiapkan
berbagai
solusi untuk setiap permasalahan yang kita hadapi. Ada
kalanya
kita membayangkan peralatan terlalu muluk, padahal,
sesungguhnya dengan peralatan yang ada kita sudah dapat
membuat sebuah film. Bahkan, untuk membuat film kita
tidak harus
menggunakan peralatan pribadi. Kita pun dapat menggunakan
peralatan yang ada di sekolah atau bekerja sama dengan
teman-
teman yang memiliki peralatan yang dibutuhkan.
c.
Keterbatasan Waktu
Tantangan lain, yaitu keterbatasan waktu. Bagi seorang
pelajar,
waktu pastilah sangat berharga. Seorang pelajar harus
mengikuti
berbagai kegiatan yang menjadi kewajibannya, mulai dari
kegiatan
kurikuler, ekstrakurikuler, kegiatan di rumah, kegiatan
di lingkungan,
dan lain-lain. Menunggu waktu luang bukanlah solusi terbaik
karena
bisa jadi waktu luang itu tidak akan datang. Seorang
pelajar harus
bisa mengatur waktu dan jeli memanfaatkan tiap-tiap
kesempatan
yang ada.
d.
Keterbatasan Pengetahuan dan Keterampilan
Seorang pembuat film pastilah harus memiliki pengetahuan
dan
katerampilan yang cukup karena kegiatan yang dilakukan
merupakan kegiatan produktif. Namun, jangan khawatir,
Anda
dapat bekerja sama dengan teman-teman jika belum mahir
membuat film. Anda tentu juga memiliki hak untuk mendapat
pendampingan dari guru-guru atau dari kakak-kakak kelas
yang
telah lebih dahulu belajar atau mendapatkan pengetahuan
tersebut.
e.
Keterbatasan Kesempatan
Puncak dari semua permasalahan itu adalah kesempatan yang
terbatas. Sebagai seorang pelajar, Anda harus pandai
memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Untuk membuka
kesempatan, mungkin Anda harus mengikuti bahkan
mengusulkan
pembukaan (jika belum ada) ekstrakurikuler film. Dengan
adanya
ekstrakurikuler ini, secara otomatis kesempatan menjadi
ada,
sekolah pun secara otomatis akan ikut menyediakan
berbagai
kebutuhan yang diperlukan.
7. Mengenal Studio Film
Studio film memiliki pengertian umum sebagai perusahaan
yang
mendistribusikan film. Namun, secara harfiah, istilah
studio film
mengacu pada sebuah tempat untuk pembuatan gambar
bergerak.
Tempat produksi ini bisa di dalam ruangan, luar ruangan,
dan
gabungan keduanya.
Pada sebuah studio film terdapat berbagai peralatan yang
dibutuhkan untuk produksi video. Peralatan-peralatan
tersebut terbagi
menjadi peralatan produksi, peralatan penyiaran, dan
peralatan
pendukung.
a. Peralatan Produksi
Camera system (studio camera dan eng/efp camera)
Video system
Audio system
Editing (and dubbing) system
VCR system
Lighting system
Master control
Production control
Commucation system
Mobile production unit
Maintenance equipment
dan lain-lain
b. Peralatan Penyiaran
Sending VCR system
Continuity studio equipment
Camera system
Audio system
Video system
Lighting system
Master control (sharing dengan produksi)
Peralatan transmisi (pemancar, microwave link, dan up
& down
link)
c. Peralatan Pendukung (Teknik Umum)
Pembangkit daya listrik:
- Stationary (PLN, generator sets)
- Mobile/protable:
Mobile generator sets sebagai kelengkapan mobile
production unit.
Small silent generator set.
Alat pendingin (AC) untuk studio dan ruang peralatan
Alat komunikasi
- Stationary
- Protable: handy talky, mobile phone.
Komputer (IT) untuk komputer grafis.
Mobil untuk transportasi tim produksi.
Mobil untuk transportasi peralatan pendukung siaran
luar.
UNIT 2
VIDEOGRAFI DALAM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
Tujuan Pembelajaran
·
Memahami kegunaan videografi dalam
desain komunikasi visual
·
Mendeskripsikan kegunaan videografi
dalam desain komunikasi visual
·
Memahami bahan dan alat yang digunakan untuk videografi
·
Mengidentifikasi bahan dan alat videografi
Penyajian Materi
1.
Lebih Dekat dengan Desain Komunikasi Visual
Desain
komunikasi visual mulai dikenal di Belanda pada tahun 1977. Waktu itu, Gert
Dumbar mengungkapkan bahwa seorang desainer grafis tidak sekadar menangani
urusan cetak-mencetak, tetapi juga mengurusi moving image, audio-visual,
display, hingga pameran.
Oleh karena
wilayah kerjanya lebih luas, konsep Gert Dumbar ini tidak lagi dapat dinamakan
desain grafis. Dia pun menggagas istilah desain komunikasi visual. Istilah ini
tidak langsung dikenal di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun
1980-an, istilah desain komunikasi visual baru sampai ke Indonesia.
Saat
ini, secara umum spesifikasi desain komunikasi visual dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu grafis, multimedia, dan periklanan. Sesuai karakteristik ilmu
pengetahuan, mungkin saja di kemudian hari pengelompokkan ini dapat berubah
atau berkembang mengikuti berbagai pengembangan dan penemuan yang dilakukan
umat manusia.
Pada desain
grafis, seorang desainer harus memiliki kompetensi dalam bidang teknik
perencanaan gambar, bentuk, simbol, huruf, fotografi, cetak-mencetak, dan
pengetahuan atas bahan dan biaya. Sementara itu,multimedia difokuskan oleh
berbagai media yang dimanfaatkan dalam penyampaian pesan, yaitu audio-visual,
animasi, dan antarmuka. Lebih detail lagi, elemen-elemen utama multimedia terdiri
atas teks, image, movie, sound, dan user control.
Berbeda dengan kedua jenis tersebut, periklanan memanfaatkan desain grafis dan
multimedia dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan tertentu, baik pesan sosial
maupun pesan komersial.
Sesungguhnya,
peran desain komunikasi visual ini tidak berhenti pada penyampaian pesan atau
informasi. Dewasa ini, desain komunikasi visual juga berperan sebagai pemberi
citra (image) terhadap sesuatu yang
dikomunikasikan. Penerima informasi tidak sekadar tahu melainkan terpengaruh
dan tersugesti. Dengan kata lain, citra tidak sekadar membuat penerima tahu,
tetapi juga menjadikannya berubah pandangan¸ berubah sikap, dari tidak suka
menjadi suka, dari menolak menjadi menerima.
2.
Videografi dalam Desain Komunikasi Visual
Pada saat
akan terjadi suatu peristiwa besar, misalnya konser, ulang tahun daerah, dan
lain-lain, Anda pasti melihat begitu banyak poster, baliho, dan spanduk yang
dipasang di tempat-tempat umum. Bisa pula Anda pernah membuat media promosi
untuk pemilihan ketua OSIS atau kepentingan lain di sekolah. Selain menggunakan
media visual tersebut, ada pula informasi yang disampaikan melalui radio.
Selain untuk menyosialisasikan kegiatan yang akan diselenggarakan, media audio
visual juga digunakan dalam promosi produk.
Poster,
baliho, dan spanduk adalah media yang murni menyajikan informasi secara visual.
Berbagai informasi disajikan secara visual dengan semenarik mungkin sehingga
menjadi persuasif. Sementara itu, radio memberikan informasi melalui
pendengaran manusia. Berdasarkan penelitian, tiap-tiap media tersebut memiliki
tingkat keefektifan sendiri-sendiri dalam menyampaikan pesan, sesuai dengan
karakteristik sasarannya.Media yang merangsang lebih banyak indra (multiindra)
dipandang akan mampu menyajikan informasi dan pengaruh lebih banyak
dibandingkan yang hanya menggunakan atau memanfaatkan satu indra, misalnya
penglihatan saja atau pendengaran saja. Selain itu, media ini akan menimbulkan
kesan dan pemahaman yang lebih besar dibandingkan media yang hanya merangsang
satu indra manusia.
Media
yang menyasar lebih dari satu indra yang dimiliki manusia tersebut dikenal
dengan istilah multimedia. Video menyampaikan pesan melalui media audio dan
visual sekaligus. Dengan begitu, secara otomatis video akan menyasar indra
penglihatan dan pendengaran pemirsanya secara
bersamaan.
Untuk
kepentingan periklanan, seorang pembuat iklan haruslah memahami dengan baik
media-media yang paling efektif dalam penyampaian pesan-pesan. Pada praktiknya,
hal ini banyak bergantung kepada konsumen.
Konsumenlah yang menentukan apakah dia akan memanfaatkan media visual, audio,
audio-visual, atau multimedia.
3.
Berbagai Peralatan dalam Pembuatan Video
Pada unit
pertama sudah dibahas tentang berbagai kelengkapan dalam sebuah studio film.
Selain peralatan yang bersifat fisik tersebut, juga dibutuhkan peralatan jenis
lain, yang sifatnya nonfisik, yaitu cerita, naskah, dan storyboard. Jadi,
secara lengkap, kebutuhan dalam pembuatan film adalah sebagai berikut.
a)
cerita
b)
naskah
c)
storyboard
d)
kamera
e)
komputer
f)
software editing video-audio
g)
kepingan VCD/DVD
Langkah-langkah
dalam Pembuatan Video :
a.
Menulis Cerita
Untuk
membuat film, Anda harus memiliki cerita. Tanpa sebuah cerita, tentulah tidak
akan ada yang dapat dilakukan. Pun begitupun dalam pembuatan iklan. Saat ini,
iklan-iklan biasanya disampaikan dalam sebuah cerita, baik cerita tentang
keingintahuan seseorang atas sebuah produk, cerita tentang pengalaman
pemakainya, maupun cerita lain yang bersinggungan dengan produk ciri, fungsi,
atau manfaat produk.
b. Menulis Naskah
Cerita yang
telah ditulis kemudian diterjemahkan menjadi naskah film atau naskah iklan.
Naskah iklan ini dijadikan dasar pembuatan storyboard.
C.
Membuat Storyboard
Pada proses
pengambilan suara dan gambar, tim harus memiliki panduan yang lebih jelas agar
hasil yang didapat benar-benar sesuai rencana. Untuk itu, dibuatlah d.storyboard.
Mengambil
Gambar
Setelah
naskah dan storyboard selesai dibuat, tim pun mengambil gambar berdasarkan
naskah dan storyboard tersebut. Pada proses ini, tentu saja dialog juga
langsung diambil.
e.
Transfer File
Gambar dan
suara yang tersimpan di kamera kemudian dimasukkan ke dalam komputer. Untuk
itu, dilakukan proses transfer file. File harus disesuaikan dengan kebutuhan software
yang akan digunakan. Jika tidak sesuai, file tidak dapat dibaca.
f. Editing
Setelah file ditransfer
ke komputer, dilakukanlah proses editing atau
penyuntingan. Pada tahap ini, bagian-bagian yang dianggap tidak perlu dapat
dibuang. Pada tahap ini dapat pula dilakukan penambahan animasi, efek suara,
atau unsur lain.
g.
Rendering
Rendering adalah
proses yang dilakukan jika proses editing
sudah selesai dan produk siap dipublikasikan. Pada proses ini file
ditransfer menjadi format tertentu sesuai kebutuhan.
h. Burn to Disc/Tape
Setelah rendering
selesai, file sudah siap disimpan ke media penyimpanan akhir, misalnya VCD,
DVD, atau bentuk lain.
